Tiara Handycraft Berdayakan Difabel, Tembus Pasar Amerika

Wow! Mungkin kata itu yang pertama kali terlintas dalam benak orang kebanyakan ketika melihat seseorang yang tidak memiliki jari tangan lengkap menyulam, atau heran bagaimana bisa seseorang yang hanya memiliki satu kaki menggunakan mesin jahit? Pemandangan mengagumkan sekaligus inspirasional tersebut ialah jamuan yang sanggup dinikmati setiap hari di sebuah rumah di daerah Sidosermo Indah, Surabaya.

Tiara Handicraft, perjuangan yang dirintis oleh Titik Winarti semenjak tahun 1995 ini memang lebih mengutamakan para penyandang cacat untuk menjadi karyawannya. Berkat hal ini, ibu dari lima orang anak itu sukses meraih aneka macam macam penghargaan baik skala nasional atau internasional, bahkan ketika mendapatkan penghargaan dari PBB pada tahun 2004 silam, dirinya juga diberi waktu untuk menunjukkan pidato di lembaga tingkat dunia tersebut.

Awal Merintis BIsnis UMKM Tiara Handycraft Oleh Titik Winarti
Ade Rizal, anak sulung Titik yang juga menangani manajemen Tiara Handicraft mengisahkan wacana awal mula perjuangan kerajinan tangan ini. “Awalnya dulu tahun 1995.

Dimulai dari hobinya ibu bikin kerajinan tangan. Produk awalnya masih berupa hiasan toples, hiasan tempat hidangan, mirip tudung saji, dan lain-lain. Ibu bikin untuk konsumsi pribadi. Lalu lambat laun dikenal tetangga, ketika ada arisan atau agenda lain ibu sering dimintai tolong mereka buat hiasan, hingga lalu undangan smakin beragam,” jelasnya panjang lebar.

Ketika sekitar tahun 1997-1998, Titik mulai mencoba mengirim produknya ke Bali. Adik yang kebetulan tinggal di Bali membantu Titik mengenalkan produknya ke toko grosir yang ada di sana, sehabis beberapa bulan berjalan, Titik menetapkan untuk meng-handle sendiri pemasaran produknya.

Hingga di suatu hari yang mungkin tidak akan dilupakan Titik, seorang pembeli yang merupakan wisatawan dari Brazil menyukai hasil kerajinan tangannya dan menunjukkan sebuah tantangan untuk mengerjakan karya yang lain.

Baca Juga belajar-bisnis-dari-wall-mart-sang-legenda-bisnis-retail-dunia/

“Waktu itu ibu dikasih sample tas dan disuruh menciptakan tas mirip itu, kalau ibu berhasil maka beliau akan pesan dalam jumlah banyak. Meski ketika itu ibu gak bisa menjahit dengan menggunakan mesin jahit, kesannya ibu menyanggupi waktu seminggu.

Sejak ditantang orang Brazil itu ibu mulai tekun berguru menggunakan mesin jahit, hingga kesannya ibu lulus tantangan itu” tutur Rizal. Lelaki Brazil yang menantang Titik itu sempat beberapa kali rutin memesan produk padanya, namun kini sudah tidak pernah ada kabarnya lagi.

Tiara Handycraft Berdayakan Difabel, Tembus Pasar Amerika

Pada tahun 1998, Titik mulai memiliki pekerja dan mencoba merambah pada pembuatan baju. Namun sehabis lebih kurang setahun memantapkan usahanya angin puting-beliung besar mulai menghadang. Tahun 1999 ketika krisis melanda Indonesia, usahanya menemui jalan buntu dan ditinggalkan semua pekerjanya hingga tak bersisa. Wanita orisinil Surabaya itu menetapkan untuk menutup usahanya.

Tapi rupanya peristiwa itu ialah kerikil loncatan, seorang sahabat Titik yang merupakan penyandang cacat menyarankan untuk merekrut para penyandang cacat untuk menjadi pekerjanya. Meski awalnya sempat ragu, namun kesannya ia menjajal saran temannya tersebut.

Dengan sumbangan link dari sahabat tersebut, Titik mulai mengajari dua orang penyandang cacat dengan telaten. Dan ternyata hasil karya mereka lebih bagus, “Mungkin alasannya ialah mereka lebih telaten dan teliti, kualitas karya mereka lebih bagus. Orang menganggap mereka kekurangan fisik, tapi secara mental bergotong-royong mereka normal,” tegas Rizal.

Titik mengaku motivasi awal menggunakan jasa para penyandang cacat ialah keprihatinan dan memberi kesempatan. “Jadi motifasi awalnya ya bukan alasannya ialah kasihan, mereka kan juga layak sebenarnya,” ungkap istri dari Yudha Darmawan ini.

Tiara Handycraft Berdayakan Difabel, Tembus Pasar Amerika Pada tahun 2004 ada 70 orang yang bekerja pada Titik, akan tetapi ketika ini pekerjanya menjadi 42 orang yang terdiri dari 38 orang penyandang cacat dan 5 akil balig cukup akal putus sekolah.

“Kapasitas yang normal ada lima, tapi harus putus sekolah,” ujar Titik. Para pekerja yang ada di Tiara Handicraft berasal dari aneka macam daerah lintas propinsi, tapi banyak dari Jawa Timur, bahkan mereka tidak direkrut secara eksklusif oleh pihaknya.

“Banyak yang tiba ke sini alasannya ialah ekspos media, alasannya ialah di sini tidak sama dengan panti, gratis pula. Datang ke sini tidak disuruh bayar malah diajari hingga bisa,” imbuh perempuan kelahiran 11 Maret 1970 itu.

Tak hanya disediakan tempat bekerja, para karyawan di Tiara Handicraft juga disediakan kemudahan tempat tinggal, dan penggajiannya dilakukan tiap bulan sekali dengan sistem borongan.

Tiara Handycraft Pamerkan Hasil Karya Di Seluruh Pelosok Negri Indonesia
Berbagai macam hasil karya dari Titik dan para pekerjanya di Tiara Handicraft telah dipasarkan di aneka macam daerah seluruh Indonesia. “Pemasarannya macam-macam, tapi tergantung pesanan, untuk ekspor ketika ini yang rutin ke USA (Amerika),” ucap Rizal.

Hiasan toples dan tudung saji yang merupakan cikal bakal produk brand Tiara hanya diproduksi ketika ada pesanan, produk yang ketika ini dikerjakan mencakup bros, tempat tisu, dompet, baju, bantal, dan sebagainya. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 175 ribu.

Usaha kerajinan ini telah memiliki hak paten dengan menggunakan brand Tiara, namun di sini juga ada pesanan untuk mengerjakan produk brand lain. Kini perjuangan yang sedari awal dirintis di Sidosermo ini telah meraup omset 60-70 juta perbulan.

Kaget Brand Tiara Handycraf Mampu Bertahan Lama
Berbagai macam penghargaan yang diraih Titik terpajang rapi di ruang tamu rumahnya, foto-foto dengan banyak tokoh termasuk presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga terbingkai rapi di pigura yang terpancang di dindingnya. Titik berkisah, ia menginjakkan kaki di Istana Negara pertama kali ketika akan pergi ke New York untuk mendapatkan penghargaan dari PBB pada tahun 2004, dan hingga kini beliau telah bolak-balik mengunjungi Istana Negara selama enam kali

Pada tahun 2007, dirinya mendapat undangan dari pemerintah Amerika untuk mengikuti agenda Visitor Leadership di Harvard University. Program tersebut diikuti oleh aneka macam kalangan, di antaranya dari kalangan politisi dan pebisnis.

Di sana Titik tidak hanya mendapat pelajaran mengenai kepemimpinan saja, melainkan juga wacana bisnis. Ketika Titik menceritakan bisnisnya yang mempekerjakan penyandang cacat sekaligus memberi fasilitas, mereka kaget bisnis Titik yang model mirip itu bisa bertahan lama.

Tak beda dengan itu, sekitar tahun 2008/2009 Titik mendapat undangan dari sebuah instansi di Jakarta yang berhubungan dengan Lembaga Manajemen Universitas Indonesia (UI). Setelah menelaah bisnis kerajinan yang ditekuninya, mereka heran, dengan manajemen bisnis yang menyatukan bisnis dan sosial ternyata bisnis Titik bisa bertahan lama.

Akan tetapi, mereka memprediksi perjuangan Titik akan kolaps tidak usang lagi bila tetap bertahan dengan model manajemen mirip ketika itu. Mereka pun memberi solusi untuk tidak mempekerjakan lagi para penyandang cacat itu dan menentukan untuk mempekerjakan orang normal.

Mendengar solusi yang ditawarkan lembaga tersebut, Titik menolak. “Saya tidak bisa melakukannya. Ada banyak orang yang mengantungkan impian pada mereka (penyandang cacat),”, ungkapnya kala itu. Hingga kesannya sebuah solusi cerdas muncul, yaitu dengan mendirikan sebuah yayasan. Dengan dibantu teman-teman Titik dan pihak-pihak lain, kesannya lahirlah Yayasan Bina Karya Tiara, yayasan tersebut bertempat di rumah sekaligus bengkel kerja Tiara Handicraft.

Dengan sumbangan para donatur, yayasan tersebut berfungsi untuk menopang kebutuhan para penyandang cacat yang juga merupakan pekerja di Tiara Handicraft, sehingga untuk keperluan tersebut tidak menggunakan uang penghasilan bisnis.

Dalam perjalanan ke depan, Titik memiliki impian besar pada yayasannya. “Berharap semoga yayasan ini semakin berfungsi dengan baik dan bisa menampung belum dewasa lebih banyak lagi. Nanti rencananya akan memperluas trial ke daerah, soalnya selama ini terhenti alasannya ialah saya hamil,” urainya.

About the Author: kyak

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *