DARI PENAMBANGAN PASIR, JADI BANDAR BAWANG, KENAPA ENGGAK??

DARI PENAMBANGAN PASIR, JADI BANDAR BAWANG, KENAPA ENGGAK??

“Tak ada pilihan lain ketika bangkrut, selain membangun bisnis gres dari awal.” tutur Mas Bun.

Itulah panggilan bersahabat salah satu mentor YEA yang ketika ini serius menggeluti bisnis snack retail. Pemilik nama lengkap Patria Mahavira tersebut merupakan alumni YEA 4.

Sempat berjaya di beberapa usahanya yang lalu, hingga bisnis penambangan pasir pun pernah ia lakoni. Namun semuanya tumbang dikarenakan tidak fokus dan administrasi yang belum memadai.

“Bisnis berkembang cepat, namun SDMnya sulit untuk bertumbuh. Sehingga tidak seimbang dan hasilnya jatuh.” lanjutnya.

Kebangkrutan yang ia alami di tahun 2013, mengakibatkan hutang Mas Bun menumpuk hingga 15 miliyar. Berdiam diri di dalam rumah selama 2 tahun, tidak ingin bertemu dengan siapapun. Hingga hasilnya ia berhasil dibujuk oleh adiknya untuk segera menemui Mas Jaya selaku mentor YEA.

Pertemuan tersebut menawarkan secercah cita-cita dan insight gres baginya. Ia dianjurkan untuk memulai bisnis kembali dan membaca buku Buka Langsung Laris.

“Saat terpuruk, menyendiri ialah cara yang salah. Ide jadi mati, spirit hilang sebab tidak pernah bertemu siapapun. Tapi sehabis membaca buku tersebut, mirip ada cita-cita baru.” ujarnya.

Akhirnya ia menetapkan untuk mengikuti semua langkah yang ada di dalam buku tersebut. Teringat akan abang yang menjual banyak produk tapi belum ada brand-nya, menciptakan Bun ingin menjual salah satunya.

Bawang goreng ia pilih sebab rasanya beda dan menciptakan orang yang tak suka bawang goreng menjadi suka. Satu persatu langkah mulai dari uji ngangenin ia lakukan hingga lolos, hingga pemilihan nama yang ngetop dan kemasan yang menarik.

Mas Bun melaksanakan riset ke beberapa komunitasnya untuk menentukan nama dan kemasan. Ia pilih serba terbalik dari kompetitor supaya terlihat beda. Kemasan kompetitor cenderung simple, maka ia buat kemasannya dengan motif yang rame.

Modal awal 5 juta rupiah, terciptalah “Bawang Maniak” seharga 32ribu rupiah/pcs, yang telah terjual sebanyak 800 pcs di bulan pertama dengan instagram organik (tanpa ads). Mas Bun hanya memakai 15 reseller untuk menggenjot penjualan. Saat ini angka penjualan konstan di 2000 pcs/bulan, tanpa ‘ads’.

Launching pada Desember 2016 lalu, Bawang Maniak menjadi produk idola para reseller sebab banyak menawarkan insentif, bonus yang menarik, dan produk gratis untuk reseller.

Selain Bawang Maniak, “Tempe Gila” menjadi produk kedua yang ia garap bersama 2 temannya ketika ini.

“Komunitas dan jaringan, ialah sumber daya bisnis yang paling berharga. Saat bangkrut, jangan berdiam diri, tapi temui orang-orang yang mampu menciptakan spirit kita kembali. Lewat pertemuan itu juga, akan banyak ide gres bermunculan.”

Itulah pesan yang Mas Bun katakan. Semoga menginspirasi..

About the Author: kyak

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *